Semua Indah Pada Waktunya… What KLD 17 Means To Me

Kurang lebih 11 tahun yang lalu, saya menyelesaikan studi saya di Fakultas Psikologi UI. Pada saat itu saya punya keinginan untuk melanjutkan studi untuk menjadi psikolog. Tetapi karena saat itu merasa jenuh kuliah, maka saya sengaja menunda dan tidak tahu pastinya kapan akan kuliah S2. Someday I will, but not sure when.

Sepuluh tahun kemudian, akhirnya saya merealisasikan rencana itu.

Pada saat mengikuti ujian, saya bertemu calon-calon teman kuliah. Mereka jauuuuuuh lebih muda. Sempat terlintas dalam pikiran, “Damn.. Bakalan capek nih kuliah bareng mereka. Kenapa jugaaa baru sekarang kuliahnya?!“. Setelah akhirnya diterima menjadi bagian dari KLD 17 dan menjalani kuliah bersama 25 orang lainnya, saya bertekad akan fokus pada kuliah, segera menjadi psikolog, menyesuaikan diri dengan pitik-pitik ini secukupnya saja.

Selama perjalanan kuliah, ada masanya saya berpikir, “Oh.. Ternyata nggak sulit kok bergaul dengan mereka“. Ada juga masanya saya berpikir, “Hedeeeuuuhh.. Capee deeeh… Perlu ‘bernapas’ dan ngobrol sama temen-temen seangkatan niiiih“. Ada kalanya saya berpikir, “Emang pas sih ambil profesi sekarang. Anak udah lebih mandiri, gue lebih banyak pengalaman hidup“. Ada juga kalanya saya berpikir, “Mestinya ambil profesi dari dulu nih, kan jadinya sekarang pasti gue sudah praktek“.

Sampai akhirnya menjalani kuliah selama kurang lebih 1,5 tahun bersama KLD 17. Sekarang ini saya baru tersadarkan. Saya sudah paham bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Tapi, sepertinya saya sempat terlupa akan hal itu. Saya percaya bahwa Tuhan adalah Sang Maha Pengatur. Jagat raya merancang yang terbaik untuk penghuninya. Saya memang sudah diatur atau direncanankan untuk kuliah profesi sepuluh tahun kemudian, agar menjadi bagian dari KLD 17. And now, I am grateful for that…

Thank You God,.. Thank You Universe,.. For making me be part of The Outstanding KLD 17

To Titis, Bombi, Dhea, Bona, Dewi, Olav, Wita, Iin, Rangga, Rini, Manik, Nana, Della, Ika, Tiker, Hanum, Citra, Decha, Vivi, Retha, Edo, Rena, Kresna, Tika and Nia…. Thank you!!!

20120309-214222.jpg

Mental health disability is on the rise

20120218-112557.jpg

Sebuah artikel di majalah Psychology Today, dengan judul ‘What’s Troubling Americans’, menyebutkan bahwa berdasarkan penelitian terhadap ratusan ribu orang Amerika berusia dibawah 65 tahun, ditemukan bahwa gangguan kesehatan mental sedang meningkat, bahkan ketika cacat fisik justru sedang menurun.

Tingkat gangguan kesehatan mental meningkat dari 2% (populasi bukan-orangtua di tahun 1997) menjadi 2.7% (di tahun 2009). Ramin Mojtabai, seorang psikiater di John Hopkins, mengatakan orang Amerika mulai memahami bahwa distres (tekanan) psikis dapat melemahkan tubuh dan gangguan ringan seperti depresi dan kecemasan seringkali diiringi gejala fisik.

David Chambers, seorang peneliti di National Institute of Mental Health, menekankan dibutuhkannya perawatan kesehatan yang terintegrasi, sehingga pasien yang mengunjungi dokter, misalnya dengan keluhan migraines, juga memperoleh perawatan untuk depresi yang mungkin menjadi penyebabnya.

Meningkatnya gangguan kesehatan mental yang dilaporkan sendiri oleh pasien, bisa jadi bukan merupakan sebuat tren yang terus meningkat, namun bisa jadi merupakan peningkatan sementara yang diciptakan oleh suksesnya kampanye kesadaran akan kesehatan mental.

***

Bagaimana dengan di Indonesia? Menurut saya, bagaimanapun juga, di Indonesia mengalami hal yang sama, hanya saja masih berada dibelakang Amerika. Artinya, kesadaran masyarakat Indonesia akan kesehatan mental masih telihat minim. Amerika saja baru meningkat toh, apalagi Indonesia… ‘baru akan mau’ meningkat ya kayaknya…

Seperti disebutkan pada artikel di atas, bahwa semakin adanya kesadaran akan kesehatan mental pada masyarakat, bisa jadi kasus gangguan kesehatan mental akan meningkat. Artinya bisa jadi menganggap bahwa semakin banyak ‘orang gila’ di Indonesia ini.

Sudah siapkah kita?

Jika penampilan dan perilakunya beda = pandangan terhadap Ratu Maut itu jadi beda?

Dia mendapat julukan Ratu Maut Xenia (eh apa Ratu Xenia Maut ya?.. Ya gitu deh pokoknya)
Belakangan muncul pertanyaan di benak saya, ‘sebenarnya apa sih yang membuat saya (dan banyak orang lainnya) begitu benci kepada itu orang?’

Fakta bahwa dia telah membuat 9 orang kehilangan nyawa, membuat puluhan orang kehilangan anggota keluarga, saudara dan teman, bisa menjadi jawaban. Tapi itu kan sebuah kecelakaan, yang siapa saja bisa mengalaminya.

Betul. Tapi masalahnya, ternyata dia habis ngobat, sehingga membuat dia lalai. Kalau dia cuma ngobat ‘aja’, tapi tidak menyetir mobil, ya terserah hidupnya dia lah ya. Ibaratnya, terserah mau diapain hidup dia asal jangan bawa-bawa orang lain jadi ikut menderita.
Tapi dia mengkombinasikan ngobat dannyetir. Akibatnya 9 nyawa melayang.

Terlepas dari kejadiannya itu sendiri, bagi saya ada hal lain lagi yang bisa menambah (atau bisa mengurangi juga sebenarnya) rasa benci terhadapnya. Yaitu pandangan saya akan penampilan dan perilaku si pelaku.

Konon kabarnya, setelah kejadian, si pelaku tidak mengasihani para korban, tidak berusaha membantu mereka dan bahkan dia yang malah marah-marah. Hal ini terlepas dari kebenarannya, tapi dalam bayangan saya sudah terbentuk demikian karena mendapat info seperti itu. Berita di TV yang saya lihat pun ketika menampilkan wajah pelaku yang lempeng tidak menampilkan ekspresi kaget, sedih atau takut.

Jujur saja, info ini membuat saya berpikir, ‘Gila ya ini orang! Kayak ga ada rasa bersalah! Sakit jiwa nih orang!’

Nah… Disinilah saya kembali berpikir. SEANDAINYA.. wajah si pelaku terlihat lebih polos, terlihat tidak berdosa, atau lebih manis parasnya, atau bahkan lebih cantik mempesona.. Akan kah menimbulkan perasaan yang berbeda dari sekarang? Ditambah lagi, SEANDAINYA saya melihat si pelaku menangis gerung-gerung menyesali perbuatannya, tergopoh-gopoh membantu para korban, histeris karena ketakukan.. Akan kah menimbulkan perasaan yang berbeda dari sekarang?

Jika ya,.. Seperti apa perbedaannya?
Jika ya,.. Artinya bisa memperjelas bahwa penampilan dan perilaku seseorang bisa sangat mempengaruhi orang lain dalam menilai sebuah situasi/kejadian, terlepas dari fakta-fakta yang ada.

Kecelakaan di Tugu Tani itu… hhh!! *emosi*

Ironis ya..

Suatu hal yang wajar ya jika kita merasa takut ketika hendak naik pesawat, naik kereta, naik jet coaster bahkan naik mobil. Kita khawatir jika terjadi sesuatu pada kendaraan tersebut dan mengakibatkan kecelakaan.

Ternyata, lagi berjalan kaki santai di trotoar (alias ditempat yang memang seharusnya dan memang diperuntukkan bagi pejalan kaki) pun terjadi kecelakaan, bahkan hingga meninggal.

Oh well,.. Pernah ada juga sih, berita tentang pesawat yang jatuh menimpa rumah. Itu lebih lagi,.. Orang lagi santai di rumah, di seruduk pesawat. Sedih ya. Ironis ya..

Dibalik kejadian naas, selalu ada cerita drama yang menambah kesedihan. Korban ada yang masih berusia 2,5 tahun, lalu ada yang sedang hamil 3 bulan. Bukan berarti korban selain mereka tidak perlu dikasihani lho!

Pengemudi mobil berkelit bahwa rem mobilnya blong. Gundulmu!!! Ketika melihat sosok pengemudi itu di media, rasa marah dan benci muncul di hati. Ditambah lagi, menurut cerita orang-orang, si pengemudi tidak menunjukkan rasa bersalah bahkan sempat dia yang marah-marah. Sintiang!!

Dari hasil pemeriksaan, ternyata pengemudi dkk posistif habis menggunakan narkoba. Another reason why we must hate and fight against drugs.

Menurut saya, pengemudi harus diberi hukuman yang berat sampai menimbulkan efek jera, tidak hanya pada si pelaku, tetapi juga bagi orang-orang lain. Lalu 3 penumpang lainnya di mobil tersebut? Menurut saya mereka juga bersalah dan harus dihukum juga. Bersalah karena membiarkan temannya yang sedang di bawah pengaruh narkoba mengemudi kendaraan. Ya terlepas dari mereka sendiri juga menggunakan narkoba yaa..

Berita tragedi di Tugu Tani yang menewaskan 9 orang pejalan kaki

What do you think?

20120123-084914.jpg

5 Months!

Uwauw.. Terakhir menulis di blog ini tanggal 11 Agustus 2011. Berarti sudah 5 bulan lamanya blog i saya cuekin.

Baiklah… Mulai bulan Januari ini mau tulis-tulis lagi yaa disini.. Nantikan!

NB. Siapa yang tertipu oleh judulnya, hayooo? LOL

20120110-225739.jpg

When You Got Nothing To Loose

Ketika ingin meraih sesuatu atau mencapai suatu tujuan, kita didorong oleh yang namanya motivasi. Mototivasi untuk mendapatkan rasa ‘berhasil’. Atau motivasi untuk menghindari rasa ‘kecewa’.

Semakin besar keinginan untuk mendapatkan rasa berhasil tersebut, semakin meningkatkan motivasi sehingga meningkatkan kinerja/usaha untuk meraihnya. This is a good thing.

Tapi..

Jika gagal, tentu kecewa. Semakin besar harapan untuk berhasil, jika gagal, semakin besar rasa kecewa. Akhirnya ketakutan akan menghadapi rasa kecewa yang besar, akan membuat gugup dan berpengaruh buruk pada kinerja.

Tapi..

Tanpa harapan untuk meraih rasa berhasil, apa yang menjad motivasi? Tanpa motivasi, apa kinerja bisa optimal?

Nah, gimana kalau yang dijadikan tujuan adalah: ‘menghasilkan kinerja yang optimal’. Siapa yang menilai? Ya diri sendiri dong. Apa yang berhasil diraih nantinya, ya merupakan bonus. Namanya juga BONUS,.. It’s something you got nothing to loose for, right?

Dengan begini, whatever the outcome is, since I think I’ve done a good job, I feel good about my self. Don’t really think much about the result. Yeayy!

Cara berpikir seperti ini, rasanya lucu juga…

Selama ini saya selalu berpikir bahwa alam semesta sangat baik terhadap saya. I always (well, most of the time) get what I want.

Selama ini saya berpikir bahwa alam semesta dapat merasakan getaran keinginan saya, dan menyediakan hal tersebut. I am able to be in the same frequency with the universe. SO COOL !

Tetapi kemudian saya berpikir dengan cara yang berbeda: It’s not that the universe feels what I feel, but I feel what the universe is about to give me! That’s why I want those things. The universe is giving me the signals, that I am about to receive it.

Thank you universe! Love you always

nb. Saya meyakini bahwa alam semesta adalah ciptaan dan milik Allah SWT. Jadi…. (silakan lanjutkan sendiri kalimatnya)

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,858 other followers